Banyuresmi – Pemerintah Desa Banyuresmi, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, menyalurkan program ketahanan pangan dengan menggandeng BUMDes Baraya Desa sebagai pelaksana utama. Program ini menyerap 20% alokasi Dana Desa Tahun 2025 sesuai ketentuan pemerintah, yang diperuntukkan bagi sektor pertanian demi meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Desa Banyuresmi, Ahmad Hidayat menjelaskan bahwa dana tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan produktif yang langsung menyentuh kebutuhan petani.
“Dana desa yang kita alokasikan untuk ketahanan pangan ini tidak hanya sebatas bantuan bibit atau pupuk, tetapi juga mendukung pengolahan lahan, irigasi, dan pemasaran hasil panen melalui BUMDes Baraya. Tujuannya jelas, petani bisa lebih mandiri dan hasil pertanian meningkat,” ungkapnya.
BUMDes Baraya memfokuskan penggunaan dana ketahanan pangan pada beberapa kegiatan utama:
Penyediaan bibit unggul untuk padi dan hortikultura.
Bantuan pupuk organik dan kimia dengan harga terjangkau.
Pengadaan alat mesin pertanian (traktor, pompa air, dan perontok padi) yang dapat disewa oleh kelompok tani.
Pelatihan budidaya modern dan pengendalian hama terpadu.
Penguatan pasar melalui pembelian hasil panen petani untuk dipasarkan kembali oleh BUMDes.
Ketua BUMDes Baraya, Agus Yusuf, S.Ag, menambahkan bahwa keterlibatan BUMDes dalam pengelolaan dana ini diharapkan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah dari dana ketahanan pangan memberikan manfaat nyata. Selain membantu petani saat musim tanam, kita juga mendukung proses penjualan agar harga panen tetap stabil,” ujarnya.
Sejumlah petani mengaku program ini membantu meringankan beban biaya produksi. Salah satunya, Bapak Dasep Sujana, petani dari Kp. Peundeuy, mengatakan:
“Biasanya kami kesulitan modal saat mulai tanam. Sekarang BUMDes membantu menyediakan pupuk dan bibit, pembayarannya pun bisa fleksibel. Hasil panen nanti juga dibantu dijual.”
Program ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian di Desa Banyuresmi hingga 15% pada musim panen berikutnya, sekaligus menjaga ketahanan pangan desa dalam jangka panjang.